Rokok; Diandalkan dan Dijatuhkan

Mendengar kata rokok, bagi sebagian orang merupakan sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi setiap harinya. Istilah ‘ Lebih baik tidak makan, daripada tidak merokok’ muncul di kalangan ini, para perokok. Lain halnya dengan kelompok anti-rokok yang sering melakukan kampanye anti-rokok yang mereka gembar-gemborkan baik langsung atau melalui media massa. Dualisme yang sudah lama muncul di kalangan masyarakat masih berlangsung hingga sekarang.

Atas: Rokok

Rokok ada di Indonesia bermula dari Kudus, Jawa Tengah di akhir abad ke-19. Saat itu, rokok masih dibungkus dengan daun jagung kering atau disebut klobot. Dalam beberapa babad legenda tanah Jawa, rokok sudah dikenal sejak lama. Tercatat dalam Kisah Roro Mendut, seorang panglima perang kepercayaan Sultan Agung menjual rokok klobot. Hingga saat ini, kebiasaan merokok masih terus dilakukan. Pabrik-pabrik rokok raksasa pun berdiri di Indonesia. Sebut saja Djarum (1951), Gudang Garam (1958), Sampoerna (1913), Wismilak (1962), dan Bentoel (1931). Dari perusahaan-perusahaan rokok tesebut, Sampoerna yang menjadi market leader di industri rokok nasional, disusul urutan kedua oleh Bentoel Group. Sampoerna memiliki beberapa produk andalan yang dikenal masyarakat, seperti Sampoerna A Mild, rokok mild pertama di Indonesia. A Mild diluncurkan pertama kali pada tanggal 19 Oktober 1990. Putera Sampoerna, generasi ketiga dari keluarga Sampoerna, yang mencetuskan ide pembuatan rokok mild. Dia ingin membuat rokok rendah tar dan nikotin, yang dinilai lebih sehat. Seiring berjalannya waktu, rokok A Mild buatan Sampoerna bisa diterima masyarakat dan sekarang menjadi pemimpin pasar rokok mild di Indonesia.

Atas: Rokok andalan Sampoerna, A Mild.

Selain Sampoerna, masih banyak lagi perusahaan rokok di Indonesia yang memiliki produk andala. Djarum dengan produk andalannya “Djarum Super”, Gudang Garam dengan kebanggaannya “Surya”, Bentoel dengan produknya “Dunhill”, dan Wismilak dengan produknya “Diplomat”. Rokok yang diproduksi dan dipasarkan  saat ini oleh para produsen rokok menjadi penerimaan cukai terbesar nasional. Penerimaan cukai semester I 2019 mencapai Rp66,70. Tercatat hingga semester I 2019, penerimaan CHT (Cukai Hasil Tembakau) mencapai Rp63,82 triliun atau 40,18 persen dari targetnya, Rp158,8 triliun. Capaian CHT semester I 2019 lebih tinggi 31,59 persen dibanding Juni 2018 yang hanya 14,84 persen. Pencapaian ini merupakan efek dari kebijakan relaksasi pelunasan pita cukai (CK1) dan digencarkannya program Penetapan Cukai Berisiko Tinggi (PCBT) demi memberantas rokok ilegal.

Selain dari CHT, penerimaan cukai semester I 2019 berasal dari Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) sebesar Rp2,78 triliun, tumbuh sebesar Rp17,75 persen dari Juni 2018. Kemudian penerimaan cukai dari Etil Alkohol (EA) mencapai Rp0,06 triliun. Dari informasi tersebut kita bisa tahu jika penerimaan negara dari cukai rokok masih yang tertinggi. Realisasi penerimaan cukai 2018 tembus 105,8% dari target yang ditetapkan sebesar Rp194,10 triliun. Realisasinya sebesar Rp205,35 triliun. Rokok menyumbang penerimaan cukai sebesar Rp153 triliun pada tahun 2018. Dari penerimaan cukai rokok sebesar Rp153 triliun, pemerintah mengalokasikan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) untuk tahun anggaran 2019 sebesar Rp3,17 triliun. Angka ini naik dibanding pada tahun 2018 sebesar Rp2,96 triliun. Alokasi DBH CHT tertinggi adalah Jawa Timur sebesar Rp1,6 triliun atau 50,4% dari alokasi DBH CHT. Di urutan kedua dan ketiga ada Jawa Tengah sebesar Rp713,3 miliar dan Jawa Barat sebesar Rp380,4 miliar. Sementara kabupaten penerima DBH terbesar adalah Kabupaten Pasuruan dengan alokasi Rp177,5 miliar, disusul Kabupaten Kudus sebesar Rp158,06 miliar. Kedua kabupaten ini menjadi sentra industri tembakau terbesar nasional.

Satu tanggapan pada “Rokok; Diandalkan dan Dijatuhkan

  1. Pingback:Tertahan Di Support Kuat, Selanjutnya Apa? - Kelas Saham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *