PT Bumi Resources Tbk: Dari Indonesia, Untuk Cina

Penulis: Farhan Hilmi Mubarok

Pada artikel sebelumnya, penulis mengulik tentang masa depan batu bara. Dalam artikel tersebut, penulis menyebutkan beberapa emiten batu bara terbesar di Indonesia. Salah satunya, Bumi Resources Tbk (BUMI). Mungkin rekan-rekan pembaca ada yang pernah mendengar atau memiliki saham BUMI. Akan tetapi, tidak sedikit yang belum tahu tentang perusahaan batu bara thermal terbesar di Indonesia ini. Perusahaan yang pernah mengalami masa kejayaan di tahun 2007 – 2008.

Perusahaan berdiri pada tanggal 26 Juni 1973 dengan nama PT Bumi Modern dan mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 17 Desember 1979. Pada awal didirikan, perusahaan bergerak dibidang perhotelan dan pariwisata. Kemudian pada tahun 1990 perusahaan melakukan Initial Public Offering (IPO) dan pada tahun 1998 bidang usaha perusahaan diubah menjadi industri minyak, gas alam, dan pertambangan. Tahun 2000 perusahaan mengubah nama menjadi PT Bumi Resources Tbk. Pemegang saham pengendali adalah keluarga Bakrie melalui PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR). Bumi Resources Tbk memiliki anak usaha yang juga tercatat di Bursa Efek Indonesia, yaitu PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Bumi Resources Tbk memiliki anak usaha lebih dari 15 anak, yang bergerak diberbagai bidang. Beberapa anak usaha Bumi Resources Tbk, yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) bergerak dibidang penambangan batu bara dengan hak konsensi kurang lebih 90.000 Ha di Kalimantan Timur, PT Arutmin Indonesia bergerak dibidang penambangan batu bara dengan hak konsensi kurang lebih 70.000 Ha di Kalimantan Selatan, PT Fajar Bumi Sakti yang memiliki hak konsensi 8.250 Ha di Kalimantan Timur, PT Pendopo Energi Batubara memiliki hak konsensi 17.840 Ha di Sumatera Selatan, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk yang beroperasi diluar penambangan batu bara seperti, emas, seng, timah, dan tembaga. Bumi Resources Tbk melalui anak usahanya, telah menjadi produsen batu bara thermal dan pemilik cadangan batu bara terbesar di Indonesia. Asal tahu saja, pada tahun 2018 Bumi Resources merealisasikan produksi batu bara sekitar 85 – 86 juta ton. Pada tahun 2019 ini, Bumi Resources Tbk membidik produksi batu bara sebesar 90 juta ton. Sangat jauh bila dibandingkan Adaro Energy yang menargetkan produksi sebesar 54 – 56 juta ton atau Indika Energy yang hanya menargetkan produksi 34  juta ton pada tahun 2019.

Memang, secara kasat mata Bumi Resources Tbk adalah perusahaan yang superior. Memiliki hak konsensi dan produksi batu bara terbesar, seakan membuat Bumi Resources Tbk nampak sebagai powerful company. Namun, nyatanya tidaklah demikian. Apa yang kita bayangkan ternyata sangat berbeda dengan keadaan sesungguhnya. Bumi Resources Tbk bukanlah perusahaan yang superior di periode ini. Kejayaannya telah berlalu sejak periode 2007 – 2008. Harga sahamnya pada Q1 2017 pernah menyentuh Rp50 per lembar. Harga tertinggi BUMI yaitu sekitar Rp8000-an di tahun 2008. Akan tetapi, kita tak bisa membanggakan masa lalu. Apalagi untuk menganalisis masa depan. Harga saham BUMI saat ini (4/6/2019) adalah sebesar Rp118 per lembar. Pasti rekan-rekan bertanya, mengapa seperti itu? Apa yang menyebabkan BUMI tidak sesuai ekspektasi? Saham pengendali BUMI adalah keluarga Bakrie. Bumi Resources Tbk terlilit utang yang besar. Membuat likuiditas perusahaan terganggu. Bumi Resources Tbk memiliki utang miliaran dolar AS kepada banyak kreditur. Tahun 2008 harga komoditas batu bara turun sangat tajam. Harga saham emiten batu bara banyak yang jatuh, tidak terkecuali BUMI. Ditambah manajemen perusahaan yang kurang baik, korup, dan tidak diterapkannya prinsip Good Corporate Governance membuat BUMI seperti ‘sudah jatuh, tertimpa tangga’. Faktor-faktor tadi yang membuat era kejayaan BUMI berakhir. Harga saham perusahaan batu bara thermal terbesar di Indonesia ini rontok tanpa ampun. Bahkan sekitar periode Q4 2016, harga saham BUMI menyentuh Rp50, harga terendah di pasar reguler. BUMI sempat dijuluki sebagai ‘saham gocap’ karena harganya tak lebih dari nasi telur. Harga yang sangat tidak pantas untuk perusahaan sekelas BUMI. Jumlah bunga utang terus meningkat, manajemen tak mampu berbuat banyak. Praktek korupsi masih saja berlangsung. Memperparah keadaan Bumi Resources Tbk. Walaupun pada periode 2017 harga batu bara membaik, tetapi tetap tidak mampu menaikkan harga saham BUMI. Keadaan yang sama pun berlaku pada Bumi Resources Minerals Tbk. Emiten berkode saham BRMS ini bernasib tak beda jauh dengan induknya. Harganya turun tak terbendung. Hingga kini pun harga BRMS belum beranjak dari Rp50. Label ‘saham gocap’ sepertinya belum ingin lepas dari BRMS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *