Belanja Saham Saat Era New Normal

Ditengah pandemi Covid-19 yang belum kunjung usai, pemerintah telah menerapkan kebijakan yaitu new normal. Yup, new normal merupakan kebijakan pemerintah sebagai upaya restart perekonomian yang sempat shutdown karena pandemi tanpa mengabaikan protokol kesehatan. Masyarakat tentu diminta beradaptasi ditengah wabah yang masih merajalela. Mau tidak mau, kita harus menyesuaikan dengan keadaan saat ini. Tak cuma soal kebiasaan saja, penyesuaian pun perlu dilakukan dalam investasi.

Mari Kita Mulai!

Sejak pandemi ini mulai mewabah di Indonesia, penulis sudah meramal akan terjadi koreksi yang cukup dalam pada IHSG. Ternyata ramalan peneliti tidak meleset. Tercatat, IHSG beberapa kali mengalami trading halt atau penghentian perdagangan sementara karena IHSG anjlok 4% atau lebih dalam satu sesi perdagangan. Bahkan, IHSG sempat terlempar menuju level 3.911 pada 24 Maret 2020. Level tersebut merupakan level terendah IHSG selama lima tahun terakhir. Akibatnya, banyak investor yang mengalami kerugian yang tidak sedikit, termasuk penulis. Penulis punya seorang rekan sesama investor yang dia memutuskan keluar sementara dari bursa saham karena frustasi akibat kerugian yang diderita.

Eitss! tenang dulu, era new normal bukan berarti investor harus pasrah dengan keadaan. Justru dikala krisis seperti ini, disertai dengan langkah yang hati-hati, dan disiplin tinggi, investor dapat meraup keuntungan dikemudian hari. Sebenarnya, pasar bearish bukanlah musuh bagi investor sejati, melainkan sebuah kesempatan emas untuk memperoleh saham bagus pada harga murah. Sayangnya, tak banyak investor yang sabar dan bersedia menunggu saat-saat seperti ini. Kebanyakan dari mereka justru terbawa arus euforia pasar bullish sebelumnya. Okay, langsung aja penulis bahas kiat belanja saham kala new normal.

Baca Juga: Pilih Mana, Jadi Investor atau Trader?

New Normal, upaya pemerintah memulihkan perekonomian

Siapkan Kas dan Manajemen Kas

Hal pertama yang harus disiapkan adalah kas dan manajemen kas. Yep, kas merupakan amunisi utama investor dalam berinvestasi. Kita tidak akan membahas dana margin karena margin merupakan uang ‘panas’. Kemudian, manajemen kas yang baik sangat dibutuhkan dalam kondisi krisis dan kondisi normal sekalipun. Tak sedikit investor yang suka kelupaan kalau beli saham. Alhasil, seluruh kas habis dipakai untuk beli saham. Seharusnya, sisakan kas sekitar 10% – 20% dari total nilai portofolio. Kas tersebut nantinya akan digunakan sebagai amunisi ketika averaging down atau membeli saham lain yang murah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *