Meskipun, harga saham berguguran alias turun dalam, investor tetap harus disiplin. Dalam hal ini, manajemen kas memainkan peran penting. Investor tak boleh melupakan aturan dan strategi yang telah disusun. Ingat, penting bagi investor untuk menyisakan sedikit kas untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan datang. Investor kenamaan Indonesia, Lo Kheng Hong, selalu menyisakan kas minimal 15% untuk berjaga-jaga. The Oracle of Omaha, Warren Buffett, menyisakan sekitar 10% – 20% kas Berkshire Hathaway untuk mengantisipasi masa depan. Percaya atau tidak, manajemen kas yang baik akan berpengaruh terhadap manajemen portofolio dan return portofolio. Anda harus yakin bahwa kedisiplinan akan menjadi sebuah kesuksesan dikemudian hari.
Manajemen Portofolio yang Proporsional
Tak hanya manajemen kas yang penting, tetapi manajemen portofolio juga perlu diperhatikan. Portofolio yang proporsional akan mampu menghasilkan return portofolio yang memuaskan. Pertanyaan selanjutnya, seperti apa portofolio yang proporsional? Dan, bagaimana menyusun portofolio yang proporsional? Okay, penulis akan ulas satu per satu. Portofolio yang proporsional adalah portofolio yang disusun atas dasar pertimbangan matang dari investor demi mencapai hasil yang memuaskan, bukan hasil maksimal. Sebab, dalam pasar saham, kita tak tahu kapan return investasi kita mencapai titik maksimal. Yang kita ketahui adalah kerugian atau kehilangan uang adalah sebuah keniscayaan.
Belum Punya Akun Saham? Buka Rekening Saham
Bentuk dari portofolio yang proporsional disesuaikan terhadap psikologis investor. Apakah dia termasuk investor defensif atau investor agresif. Pastinya, return yang akan diperoleh berbeda. Investor agresif kemungkinan besar akan memperoleh return yang lebih memuaskan daripada investor defensif. Akan tetapi, hal ini bukanlah sebuah masalah. Setiap investor memiliki risk tolerance atau toleransi risiko yang berbeda. Tentu, susunan portofolionya pun jelas berbeda. Asal investor menerapkan metode disiplin investasi yang ketat, return akan tercapai.
Ilustrasi Psikologi Investor
Seperti yang telah diulas sebelumnya bahwa portofolio disesuaikan berdasarkan psikologis investor. Penulis akan memberikan contoh susunan portofolio yang proporsional untuk investor defensif dan investor agresif. Investor defensif sebaiknya menggunakan proporsi 40% – 50% saham bumper (contoh: ULTJ, SIDO, ADMF). Saham bumper adalah saham yang berfungsi sebagai ‘penahan’ portofolio. Contoh saham tersebut dipilih karena saham-saham tersebut tidak mengalami fluktuasi harga yang tinggi. Lalu, 40% – 50% saham utama atau saham-saham yang diekspektasi akan memberikan return yang lebih tinggi daripada saham bumper. Contoh saham utama, silakan pembaca cari sendiri. Kemudian, sisa 10% adalah idle cash.
Investor agresif sebaiknya memegang sekitar 20% – 30% saham bumper dan 60% – 70% saham utama. Contoh saham bumper investor agresif sama seperti saham bumper pada investor defensif. Jika pembaca memiliki referensi saham bumper lain, silakan saja. Carilah saham yang tidak berfluktuasi tinggi, tetapi mantap secara fundamental. Saham bumper sebaiknya berasal dari sub-sektor yang berbeda. Agar ketika terjadi penurunan, tidak semua sahamnya turun. Pemilihan saham utama juga perlu diperhatikan dengan baik dan cermat. Sebab, penempatan dana investor terbanyak ada di saham utama. Jangan sampai Anda kehilangan sebagian uang atau seluruh uang karena salah memilih saham.
Eksekusi!
Pada akhirnya, Anda harus mengambil sebuah keputusan. Setelah Anda melakukan analisis menyeluruh fundamental secara menyeluruh, langkah selanjutnya adalah eksekusi! Yep, eksekusi ibarat menendang bola penalti layaknya Cristiano Ronaldo. Kita tak akan tahu hasil analisis tepat atau meleset jika kita tak melakukan eksekusi. Begitu pun Ronaldo, dia tak akan tahu timnya menang atau tidak jika dia tak menendang penalti. Namun yang pasti, jika Ronaldo tidak menendang penalti, dia tak akan mencetak gol. Begitu pun investor, jika dia telah menganalisis saham secara menyeluruh, sudah menghitung margin of safety, dan menganalisis manajemen perusahaan namun dia tidak mengeksekusi saham tersebut, kesempatan memperoleh keuntungan pasti sirna. Penulis ingat nasihat Benjamin Graham dalam The Intelligent Investor, “Anda tak menjadi benar ataupun salah hanya lantaran orang lain tak setuju dengan Anda. Anda benar karena data dan penalaran Anda sudah benar”. Dalam dunia sekuritas, keyakinan adalah kekuatan terbesar setelah pengetahuan memadai dan penilaian teruji tergenggam di tangan. Investasi menjadi hal paling pintar ketika Anda menjalankannya dengan sangat efisien (businesslike). Anggaplah investasi Anda adalah sebuah bisnis. Dengan begitu, Anda akan serius menjalaninya.