IHSG Naik Saat Pandemi, (Quantitative Easing)- Part 2

Pada artikel sebelumnya, penulis sudah mengulas tentang kenaikan IHSG dan tiga indeks utama Negeri Paman Sam. Masih dalam artikel sebelumnya, penulis sempat menyinggung soal kebijakan quantitative easing yang dilakukan oleh beberapa bank sentral. Kebijakan yang powerful ini mampu membuat IHSG menguat cukup signifikan. Pengertian kebijakan quantitative easing, penerapan kebijakan, dan dampak yang ditimbulkan dari penerapan kebijakan tersebut akan penulis bahas pada artikel ini. Yuk disimak!

Apa Itu Quantitative Easing?

Quantitative easing adalah kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral untuk menjaga perekonomian suatu negara agar tetap berjalan optimal. Bank sentral akan menggelontorkan sejumlah dana besar untuk membeli sekuritas dari sektor swasta termasuk dana pensiun, perusahaan asuransi, high-street bank, dan firma non-finansial. Sekuritas yang sering dibeli oleh bank sentral yaitu government bonds. Sebab, pasar yang tersedia begitu besar sehingga bank sentral dapat membeli dalam jumlah yang besar. Selain government bonds, bank sentral juga membeli corporate bonds. Meskipun, dalam jumlah yang lebih sedikit daripada government bonds.

Penerapan kebijakan ini yaitu bank sentral akan membeli government bonds dari private sector businesses, kemudian menyimpan sekuritas tersebut hingga waktu yang belum ditentukan. Pembelian sekuritas oleh bank sentral mengakibatkan harga sekuritas tersebut naik dan yield dari obligasi pemerintah turun. Kenaikan harga sekuritas mendorong pemegang sekuritas untuk menjual sekuritas yang dimilikinya. Hasil dari penjualan sekuritas yang berupa kas, dapat dibelikan sekuritas lain yang memiliki return yang lebih menarik, seperti saham. Penurunan yield obligasi pemerintah membuat suku bunga rendah dan mendorong masyarakat untuk membelanjakan uangnya demi memenuhi kebutuhan hidup yang produktif. Meningkatnya belanja masyarakat akan meningkatkan income bagi perusahaan. Dengan demikian, perusahaan dapat terus melanjutkan bisnisnya.

Apa alasan bank sentral melakukan quantitative easing?

Alasan bank sentral melakukan quantitative easing adalah demi menjaga roda perekonomian. Seperti yang kita tahu, perekonomian negara-negara maju terkena dampak yang cukup berat disebabkan oleh virus corona. Banyak perusahaan yang merugi, bahkan bangkrut. Ribuan orang kehilangan pekerjaan serta kehilangan pendapatan. Sementara, jika perusahaan tidak survive dampak yang lebih parah akan terjadi. Oleh sebab itu, bank sentral melakukan kebijakan ini agar perekonomian dapat terselamatkan dan tidak terjadi resesi ekonomi. Resesi ekonomi adalah kondisi ketika suatu negara mengalami kontraksi ekonomi selama dua kuartal beruntun pada satu tahun yang sama. Jika resesi terjadi, economic recovery akan lebih lambat.

Federal Reserve

Bank sentral yang melakukan kebijakan quantitative easing diantaranya yaitu Federal Reserve (The Fed) dan Bank of England (BoE). Berdasarkan CNBC Indonesia (9/6/2020), The Fed memastikan bahwa kebijakan quantitative easing yang dilakukannya tidak memiliki batas, alias unlimited. Sampai 9 Juni 2020, The Fed telah merealisasikan sebanyak US$1,4 triliun. Sedangkan, BoE siap menggelontorkan dana sebesar £200 miliar dan sudah terealisasi sebesar £70 miliar. Bayangkan aja, The Fed siap membeli treasury bonds dan mortgage back securities pada harga berapa pun dan dalam jumlah yang tak terbatas! Unlimited money bro!

Bank of England

Jadi, berdasarkan pendapat penulis, kebijakan quantitative easing lah yang menjadi penyebab IHSG naik cukup signifikan. Banjir likuiditas yang terjadi di negara seperti AS, Uni Eropa, dan Jepang berimbas hingga ke IHSG. Investor asing menginvestasikan uangnya di emerging market, salah satunya Indonesia. Mengapa mereka (investor asing) tertarik menanamkan uang di bursa negara berkembang seperti Indonesia? Bukannya di negara mereka ada bursa saham juga? Bahkan kapitalisasi pasarnya sudah sangat besar. That’s the point! Sebab, bursa saham kita kapitalisasi pasarnya masih rendah dan ditambah dengan selisih kurs yang cukup banyak, investor asing tertarik berinvestasi di emerging market karena dengan begitu mereka dapat berinvestasi di banyak emiten serta dapat menggerakkan pasar. Kita udah tahu kan, kalau mayoritas pemodal di Indonesia adalah pemodal asing? Investor asing masuk, IHSG akan cenderung naik, begitu pun sebaliknya. Investor asing keluar, IHSG akan cenderung turun. Penulis rasa sudah cukup ulasan tentang kenaikan IHSG saat Pandemi corona ini.

Kesimpulan

Jadi, simpulannya adalah quantitative easing menjadi penyebab kenaikan IHSG beberapa waktu yang lalu. Bukan tidak mungkin IHSG akan kembali naik, walaupun penulis ngga tahu kapan waktunya. Mengingat bank sentral masih menggelontorkan dana yang sangat banyak ke perekonomian. Selama Pandemi belum berakhir, bank sentral masih akan menjalankan kebijakan quantitative easing ini hingga perekonomian benar-benar dapat berjalan dengan baik. Semoga Pandemi ini segera berakhir dan perekonomian kembali normal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *