IHSG Naik Saat Pandemi, Kok Bisa? Part 1

Ngga terasa sudah 3 bulan virus corona menjadi Pandemi sejak awal kemunculannya di Wuhan, China bulan Desember 2019 lalu. Virus ini sudah mewabah di lebih dari 200 negara di seluruh dunia. Virus yang menyebar begitu cepat ini memaksa banyak negara menerapkan lockdown di wilayahnya. Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa negara sudah melonggarkan kebijakan lockdown dan membuka kembali kegiatan ekonomi step by step. Negara yang mulai membuka kembali kegiatan ekonominya mayoritas dari negara Eropa Barat, seperti Jerman, Spanyol, Yunani, dan Italia. Mereka tetap memperhatikan protokol kesehatan dalam membuka kembali perekonomian mereka.

Negeri Paman Sam, Amerika Serikat, menjadi negara dengan kasus COVID-19 terbanyak didunia. Belum lagi, isu rasisme yang sedang merajalela di negara adidaya tersebut. Demonstrasi secara besar-besaran di beberapa negara bagian AS turut menjadi sorotan. Selain Pandemi yang belum kunjung berakhir, isu rasisme ini bisa menjadi batu sandungan bagi Donald Trump untuk kembali memenangkan pemilu presiden yang akan diselenggarakan pada bulan November tahun 2020. Gejolak terus menerus yang terjadi di AS, menyebabkan investor khawatir akan terjadi ‘sesuatu’ yang akan berimbas pada perekonomian AS.

Fakta Menarik

Namun, penulis menemukan fakta yang menarik. Penulis menemukan bahwa dalam beberapa minggu terakhir, IHSG beberapa kali naik cukup signifikan. Padahal, belum ada tanda-tanda Pandemi COVID-19 akan berakhir. Akan tetapi, penulis lihat bahwa kenaikan IHSG yang cukup signifikan menandakan bahwa ada ‘sesuatu’ yang menjadi alasan IHSG menguat. Dari domestik belum ada berita yang begitu kuat meyakinkan bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja. Memang, Bank Indonesia mengumumkan pemangkasan BI rate. Namun, menurut penulis, kebijakan tersebut belum lah mampu menjadikan alasan penguatan IHSG yang fantastis tersebut.

IDX Composite Index Weekly Statistics  1

Dari luar negeri, kebijakan bank sentral The Fed, misalnya, yang meluncurkan kebijakan quantitative easing ternyata cukup efektif sebagai ‘penyelamat’ perekonomian di AS. Hal ini dibuktikan dengan menguatnya tiga indeks andalan AS. Indeks Dow Jones menyentuh level tertinggi 27.580, S&P 500 menyentuh level tertinggi 3.233, dan Nasdaq menyentuh all time high pada level 10.086. Penguatan ketiga indeks tersebut menandakan bahwa ada dana besar yang mengalir ke pasar saham AS. Padahal, mayoritas bisnis di AS mengalami kelesuan yang disebabkan oleh virus corona. Belum lagi tingkat pengangguran di AS yang menyentuh angka tertinggi dalam 90 tahun terakhir yaitu sebesar 14,7% pada April 2020. Bahkan, menurut beberapa pakar, angkanya bisa jauh lebih tinggi lagi.

Dow, S&P 500, and Nasdaq 3M 2020 1

Opini Penulis

Berdasarkan opini penulis, penyebab kenaikan IHSG dan tiga indeks utama Wall Street yaitu banjir likuiditas. Apa maksudnya? Di atas penulis sudah menyinggung singkat tentang kebijakan quantitative easing yang dilakukan oleh The Fed. Berdasarkan dari berita yang penulis baca, kebijakan tersebut cukup masuk akal menjadi penyebab utama kenaikan indeks saham. Kebijakan tersebut mengakibatkan masyarakat memiliki likuiditas atau dana yang cukup untuk membeli saham-saham perusahaan di AS. Bahkan, diantaranya digunakan untuk berinvestasi di bursa saham luar negeri. Indonesia menjadi salah satu negara tujuan investasi asing tersebut.

Mungkin itu saja yang bisa penulis sampaikan pada artikel kali ini. Artikelnya sudah cukup panjang. Masih ada poin yang belum dibahas dalam artikel ini, yaitu kebijakan quantitative easing bank sentral. Kebijakan tersebut akan peneliti ulas dalam artikel selanjutnya. Tunggu artikel selanjutnya yaa!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *