Cara Analisis Fundamental Saham – Tahap 1

Kedua, rasio DER ( Debt to Ratio )

DER biasanya digunakan untuk mengetahui berapa besar utang yang dimiliki perusahaan bila dibandingkan dengan ekuitasnya. Semakin besar DER, maka semakin sempit keleluasaan perusahaan untuk melakukan pendanaan dengan utang. Pemerintah menetapkan maksimal rasio DER adalah 4x dimulai dari tahun pajak 2016 sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No.169/PMK.010/2015. Rumus DER adalah sebagai berikut :

DER : total liabilitas / total ekuitas

Total liabilitas yang digunakan dalam perhitungan ini tentu bukan berasal dari penjumlahan liabilitas jangka panjang dan jangka pendek, namun yang digunakan adalah pinjaman bank jangka pendek, bagian pinjaman bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun, dan pinjaman jangka panjang.

Untuk mengetahui apakah DER sebuah kecil atau besar, kita perlu membandingkan dengan emiten dari industry perusahaan tersebut. Perusahaan konstruksi dan perbankan mereka biasanya memiliki DER yang tinggi. Namun, umumnya DER dibawah 1 apalagi dibawah 0,5 merupakan angka yang baik untuk berinvestasi.

Ketiga, rasio ROE ( Return On Equity )

Merupakan formulasi sederhana jika ingin mencari tahu berapa keuntungan dari investasi Anda.

ROE = laba bersih / modal

ROE perlu disetahunkan :

kuarter 1 dikali 4 dibagi 1

kuarter 2 dikali 4 dibagi 2

kuarter 3 dikali 4 dibagi 3

kuarter 4 dikali 1

Misal, laba bersih Rp900.000.000 dan modal Rp2.500.000.000

ROE = Rp900.000.000 / Rp2.500.000.000 = 20 %

ROE Perusahaan yang bagus menurut saya diatas 15%. Akan tetapi, jika ROE terlalu tinggi, biasanya juga memiliki risiko tinggi pula karena perusahaan itu memiliki rasio utang cukup besar.

Kontribusi Artikel : Farhan Hilmi Mubarok

Sumber :

www.sahamok.com

www.teguhhidayat.com

Filbert, Ryan dan William Prasetya. Investasi Saham ala Fundamentalis Dunia. Jakarta : PT Elex Media Computindo

Gabung channel telegram: @kelassaham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *