Lo Kheng Hong BUKAN ‘Warren Buffett’ Indonesia!

Halo, apa kabar rekan-rekan sekalian? Semoga selalu dalam keadaan sehat. Setelah sekian waktu tidak menulis artikel karena penulis mesti menyelesaikan skripsi dan syukur skripsi telah selesai, penulis akan aktif menulis artikel kembali. Yups, penulis tertarik mengulas tentang salah satu investor kenamaan Indonesia yaitu Lo Kheng Hong. Hampir seluruh investor di Indonesia mengenal beliau. Saking terkenalnya, beliau dijuluki sebagai ‘Warren Buffett-nya Indonesia’. Hmm, apakah betul Lo Kheng Hong layak disebut dengan ‘Warren Buffett’ versi Indonesia? Penulis akan bahas pada artikel ini. Yuk!

Other’s People Money dan Own Money

Setelah Ben Graham memutuskan untuk menutup perusahaan fund miliknya, Buffett lantas mendirikan perusahaan fund di rumahnya, Omaha. Yep, sebelum Buffett menjadi seorang investor tenar seperti sekarang ini, Buffett terlebih dulu menjadi seorang fund manager. Buffett mengelola uang yang berasal dari saudara kandung, sahabat, dan mantan investor di perusahaan fund milik Ben Graham. Mereka mempercayai kemampuan dan integritas Buffett karena mereka melihat sendiri bahwa Buffett adalah orang yang jujur. Bermula dari perusahaan fund ini lah, Buffett kemudian mendirikan gurita bisnis Berkshire Hathaway yang kini menjadi holding company bagi puluhan perusahaan.

Buka Rekening Saham Online: https://kelassaham.com/open-account/

Bagaimana dengan Lo Kheng Hong? Pak Lo atau yang biasa disingkat LKH awalnya merupakan seorang staf tata usaha di salah satu bank di Jakarta. Beliau lalu berkenalan dengan pasar modal dan aktif berinvestasi saham dengan menyisihkan sebagian gajinya. Hal tersebut beliau lakukan hingga hasil investasi di saham cukup memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari hasil menyisihkan gaji tersebut, Pak Lo berhasil meraup keuntungan yang fantastis, diantaranya yaitu UNTR, INKP, dan INDY. Nah, berdasarkan hal tersebut, sangat jelas bahwa Warren Buffett dan LKH berbeda dari sumber dana investasi. Buffett dengan other’s people money dan LKH dengan own money. Buffett pun meletakkan seluruh uangnya di perusahaan fund miliknya, sehingga Buffett memperoleh double income. Pertama, dari fee atas jasa fund dan kedua, dari hasil keuntungan investasinya di fund. LKH tidak pernah mengelola uang milik orang lain. Dana investasinya merupakan uang beliau semua.

Punya Partner dan Single Investor

Dalam menjalankan Berkshire, Buffett ditemani oleh seorang partner yaitu Charlie Munger. Munger awalnya adalah seorang pengacara. Awal karir Munger terjun sebagai investor yakni kala Buffett mengajaknya untuk turut serta menjalankan perusahaan fund milik Buffett. Buffett menyadari bahwa Munger memiliki pengetahuan dan kemampuan yang tidak dimilikinya, yaitu growth investing. Gaya investasi growth investing yang dipopulerkan oleh Philip Fisher, nampaknya telah memengaruhi Buffett. Buffett yang sekarang berbeda dengan Buffett muda. Gaya investasi Buffett muda sangat kental dipengaruhi oleh Benjamin Graham, Bapak Value Investing. Namun, sejak bermitra dengan Munger, gaya investasi sedikit terpengaruh oleh growth investing. Bagi Buffett, Munger merupakan rekan yang sangat berharga. Berkshire tak akan menjadi seperti sekarang tanpa seorang Munger.

Pak Lo sejak awal merupakan seorang single investor. Beliau tak pernah memiliki mitra, pegawai, atau anak buah. Semua analisis beliau lakukan seorang diri. Bagi LKH, menjadi single investor merupakan suatu hal yang menyenangkan. Beliau tak perlu repot mengurus pegawaim mitra, dan bisnis. Semua hal beliau lakukan seorang diri. Toh, tanpa bantuan mitra pun Pak Lo sudah menjadi investor sukses yang kaya raya.

Combine of Value & Growth Investing dan Total Value Investing

Yups, seperti yang telah penulis sebutkan di atas, bahwa Warren Buffett yang sekarang bukanlah Warren Buffett yang dulu. Maksudnya, gaya investasi Buffett yang dulu sangat dipengaruhi oleh value investing dari Ben Graham, sedikit demi sedikit pudar karena Buffett mulai terpengaruh oleh growth investing dari Philip Fisher. Hal tersebut bukan berarti metode value investing sudah usang, tetapi Buffett mengatakan bahwa dia nyaman menggunakan paduan dari kedua metode tersebut. Bagaimanapun, Buffett tetap menganggap bahwa value investing merupakan metode investasi yang paling sukses bagi dirinya dan Buffett telah membuktikannya.

Lo Kheng Hong merupakan seorang value investor sejati. Gaya investasinya dipengaruhi oleh pemahaman Graham dan Buffett. Meski beliau terpengaruh oleh gaya investasi Buffett, namun beliau tidak terpengaruh oleh growth investing. Hal tersebut nampak pada keputusan investasi yang diambil oleh Pak Lo selama perjalanannya menjadi investor. Mayoritas saham-saham yang dibeli Pak Lo adalah saham yang sesuai dengan kriteria value investing. Maka dapat disimpulkan bahwa Pak Lo merupakan seorang value investor sejati.

Investor & Pebisnis dan Sleeping Investor

Bukan rahasia umum jika Warren Buffett dikenal bukan hanya sebagai investor ulung, namun dikenal juga sebagai pebisnis andal. Tanpa andil dan usaha Buffett, sangat tidak mungkin Berkshire Hathaway yang berawal dari sebuah perusahaan tekstil yang hampir bangkrut disulap menjadi gurita bisnis yang membawahi puluhan anak usaha. Bukti ini cukup nyata membuktikan bahwa Buffett merupakan pebisnis yang andal dan gigih. Ide brilian yang dimiliki Buffett kemudian diimplementasikan pada Berkshire dan jadilah Berkshire yang kita tahu saat ini. Walter Schloss, seorang investor kawakan, mengatakan bahwa Buffett bukan hanya seorang analis yang andal, namun seorang pengusaha dan penilai orang yang ulung. Schloss menambahkan bahwa tidak semua orang mampu dan mau menjadi seperti Warren.

Sedangkan Pak Lo, seperti yang kita tahu, beliau merupakan sleeping investor. Sleeping investor adalah investor yang tidak terlibat dalam operasional perusahaan baik secara langsung atau tidak langsung. Jadi tugas beliau hanya ‘tidur’ saja sambil menunggu harga saham naik. Apakah sesederhana itu? Yup! Penulis pernah berjumpa dengan Pak Lo dan beliau memang mengatakan hal tesebut. Jika Buffett setiap hari dihadapkan pada segala urusan perusahaan, maka Pak Lo hanya membaca koran, menganalisis laporan keuangan, berinvestasi, dan tidur! Pak Lo juga biasanya mengisi waktu dengan berlibur ke tempat yang dia inginkan. Baginya, menunggu saham naik tidak perlu harus menatap layar monitor setiap hari. Namun bisa diisi dengan berlibur bersama keluarga ke luar negeri atau berbelanja batik hehehe.

Dari kisah dua investor ulung tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa gaya investasi setiap investor berbeda dan tidak bisa disamakan. Meskipun, salah satu dari kedua orang tersebut belajar dari yang lainnya. Seperti Pak Lo yang belajar dari Warren Buffett, tidak serta merta beliau menjadi seperti Buffett. Pak Lo menyesuaikan gaya investasi Buffett dengan dirinya, sehingga menghasilkan metode investasinya yang cocok dengan diri Pak Lo. Begitu pun penulis dan rekan-rekan yang belum lama menjadi investor. Kita tidak perlu meniru suatu metode secara mutlak, tetapi disesuaikan dengan diri kita. Hingga nantinya kita akan menemukan metode investasi yang paling cocok dengan diri kita. Happy and keep investing!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *