Jangan Tiru Warren Buffett. Anda Ngga Akan Bisa! Part 2

Halo, para pembaca artikel Kelas Saham yang budiman. Semoga selalu sehat ya. Ditengah situasi pandemi dan kebijakan new normal yang dikeluarkan oleh pemerintah, diharapkan situasi segera membaik. Oke, kembali lagi bersama penulis di artikel Kelas Saham. Masih dengan bahasan yang sama, penulis akan lanjutkan artikel sebelumnya tentang Warren Buffett. Ngga ada habisnya kalau bahas Opa Buffett hehe

Setelah kemarin kita bahas bahwa Warren Buffett memiliki guru yang hebat yaitu Benjamin Graham serta kemampuannya dalam menilai dan memilih orang yang tepat untuk menjalankan perusahaan. Kali ini, penulis akan mengulas keunggulan lain dari Buffett yang ‘sangat jarang’ dimiliki oleh investor saham pada umumnya. Here we go!

Logika Investasi

Pada kurun waktu tahun 1966 – 1967, Warren Buffett pernah memegang saham Disney. Kemitraan Buffett menguasai sekitar 5% dari saham perusahaan. Seperti yang kita tahu, Disney adalah perusahaan produsen kartun, animasi, dan taman hiburan terbesar didunia. Salah satu trademark terpopuler dari Disney yaitu Mickey Mouse. Sejak penulis kecil, kartun Mickey Mouse menjadi salah satu kartun yang paling sering diputar di televisi. Selain Mickey Mouse, masih banyak trademark Disney yang lain seperti Snow White, Mary Poppins, Disneyland, dan sebagainya.

Kunci penting yang dilakukan Buffett adalah datang dan duduk di dalam bioskop, dikelilingi oleh anak-anak yang sangat antusias menonton film Disney yang berjudul Mary Poppins. Buffett melihat sendiri bahwa anak-anak tersebut sangat mencintai produk-produk Disney. Bahkan, setelah Mary Poppins tidak tayang lagi di bioskop, anak-anak akan tetap setia menunggu tayangan Mary Poppins di televisi. Disney juga memanfaatkan kecintaan anak-anak terhadap produk-produknya dengan mengeluarkan lisensi pada tas sekolah anak-anak, t-shirt, dan taman hiburan. Tidak hanya dari sisi produk, Buffett juga bertemu dengan Walt Disney. Buffett kembali kagum dengan sosok Walt Disney karena pengabdian dan antusiasmenya dalam pekerjaan. Logika investasi Buffett menekankan pada intangible assets Disney dan tidak terlalu fokus pada neraca.

Disney

Harga beli yang dilakukan Buffett tercatat sebesar $4 juta dan harga jual sebesar $6,2 juta. Kemitraan Buffett memperoleh keuntungan sebesar 55% atau $2,2 juta. Namun, keputusan penjualan tersebut merupakan sebuah kekeliruan. Harga saham Disney melejit sebesar 138 kali lipat kurun waktu 1967 hingga 1995. Buffett terlalu cepat menjual saham tersebut dan menyesali keputusan penjualan yang dilakukannya.

Charlie Munger, a lifelong partner

Dalam sepak terjangnya dalam dunia investasi, Buffett memiliki seorang rekan yang jenius. Dia bernama Charlie Munger. Munger awalnya adalah seorang lawyer. Namun, dia lebih tertarik berkarir dibidang investasi daripada hukum. Bagi Buffett, Munger adalah sosok yang sangat spesial. Charlie Munger sebenarnya sudah kenal Buffett sejak tahun 1959 atau 61 tahun yang lalu. Namun, mereka berdua baru bekerja sama pada tahun 1978 atau 42 tahun yang lalu. Ketika itu, Warren dan Charlie berumur 29 dan 35 tahun.

Charlie Munger, rekan Warren Buffett

Charlie Munger memiliki landasan investasi growth investing. Landasan investasinya dipengaruhi oleh Philip Fisher, seorang investor dengan gaya growth investing. Kemampuan dan keahlian yang dimiliki oleh Charlie Munger, mampu memberikan Buffett sudut pandang lain dalam membuat keputusan investasi. Warren Buffett yang mulanya adalah seorang value investor sejati, kemudian terpengaruh oleh logika investasi growth investing ala Charlie Munger. Pada tahun-tahun selanjutnya, Buffett tidak menggunakan value investing murni dalam berinvestasi. Namun, menggunakan logika investasi growth investing dari Munger. Buffett mengakui bahwa kini dia bukanlah penganut sejati aliran Graham, tetapi campuran antara Graham dan Fisher. John Train, seorang penasihat investasi, mengemukakan jika logika Buffett dipengaruhi 85% oleh Benjamin Graham dan 15% oleh Philip Fisher.

Kombinasi logika value and growth investing ini mampu menghasilkan hasil investasi yang sangat fantastis. Ditangan Buffett dan Munger, Berkshire Hathaway menjadi perusahan superior dengan memiliki banyak entitas anak perusahaan dan asosiasi. Pada Maret 2019, aset Berkshire Hathaway tercatat sebesar USD 736 miliar. Sebuah nilai aset yang sangattt fantastis mengingat Berkshire yang awalnya hanya sebuah ‘pantat cerutu basah’. Berkat kesuksesan Buffett dan Munger di Berkshire Hathaway, kekayaan mereka berdua pun tak kalah mencengangkan. Tercatat pada Maret 2019, kekayaan Charlie Munger mencapai USD 1,7 miliar, sementara Warren Buffett memiliki kekayaan mencapai USD 84 miliar. Saat itu, Buffett tercatat sebagai orang terkaya nomor tiga didunia versi Forbes.

Berinvestasi dengan cara yang paling nyaman

Baiklah, dari dua artikel yang penulis tulis, sosok Warren Buffett bukan hanya seorang investor saham seperti kebanyakan orang umumnya. Namun, Buffett juga merupakan pengusaha, CEO, dan rekan kerja yang sangat baik. Selama lebih dari 40 tahun Buffett dan Charlie bekerja sama, mereka berdua tidak pernah bertengkar. Warren berkata, bahwa dia selalu memperoleh pelajaran baru setiap bersama Charlie. Baik Buffet dan Charlie, keduanya saling menghormati perbedaan yang ada. Bagi Buffett, Charlie tidak hanya sebagai rekan bisnis, tetapi merupakan seorang penasihat yang sangat bijaksana.Tak terasa artikel ini sudah terlalu panjang ya. Penulis begitu semangat menulisnya sampai lupa kalau sudah sepanjang ini.

Artikel ini hanya sedikit memuat faktor-faktor yang membuat Buffett berbeda dari kebanyakan investor lain diluar sana. Bagi kita, terlihat impossible be the next Warren Buffett, tetapi kita dapat sukses berinvestasi sesuai dengan gaya dan pribadi masing-masing. Salah satu value investor kawakan yang juga teman Buffett dan murid Graham, Walter Schloss, pernah berujar “ Secara psikologis, saya hanya terbentuk berbeda dengan Warren. Saya melihat ada banyak orang yang berusaha menjadi Warren, tetapi mereka harus ingat bahwa dia (Warren) tidak hanya seorang analis yang baik, tetapi juga merupakan seorang penilai manusia dan bisnis yang bagus. Saya tahu keterbatasan saya, jadi saya lebih suka berinvestasi dengan cara yang paling nyaman bagi saya.” Oke, cukup artikel kita kali ini. Sampai jumpaaaa….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *