COVID-19, pukulan atau kesempatan?

Pada bulan Maret lalu, Pak Jokowi mengumumkan status tanggap darurat Corona Virus Disease 2019 ( COVID-19 ). Virus yang bermula di Wuhan, Cina ini sudah mewabah di lebih dari 200 negara di dunia dan menginfeksi lebih dari 7 juta kasus di seluruh dunia. Sontak, hal tersebut mengakibatkan banyak negara didunia yang menerapkan lockdown. Lockdown atau pembatasan wilayah merupakan upaya pemerintah untuk menekan laju pertambahan kasus virus corona di suatu daerah/negara. Kebijakan lockdown tentunya akan berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat di daerah/negara tersebut. Pastinya, sebab kebijakan lockdown ini, kegiatan ekonomi akan terganggu. Roda perekonomian tersendat karena rendahnya daya beli masyarakat, perusahaan mengalami kerugian, pemecatan karyawan, pengangguran, dan dampak lain yang ditimbulkan oleh virus ini.

Dunia Usaha

Bagi dunia usaha, menghadapi pandemik ini merupakan momentum yang sangat berat. Astra International menjual mobil sebesar 129.743 unit selama kuartal I 2020 atau mengalami penurunan sebesar 3,36% secara year on year dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yaitu 134.229 unit. Eastparc Hotel mengalami penurunan kinerja laba kuartal I 2020 sebesar 51%-75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, pengelola Taman Impian Jaya Ancol, membukukan rugi bersih pada kuartal I 2020 sebesar Rp10,45 miliar, padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya perusahaan mencetak laba bersih sebesar Rp10,88 miliar. Dari ketiga contoh di atas, membuktikan bahwa pandemik ini mengakibatkan sejumlah perusahaan mengalami penurunan laba dan bahkan mengalami kerugian. Selain contoh tersebut, masih banyak lagi perusahaan yang mengalami nasib serupa.

Astra International
Hotel Eastparc

Selain dampak pandemik terhadap kinerja perusahaan, pandemik juga memengaruhi pasar saham domestik. Selama kuartal I 2020, IHSG anjlok 28% dari level 6.299 pada 30 Desember 2019 menjadi level 4.538 pada 31 Maret 2020. Bahkan, indeks kebanggan Indonesia ini sempat amblek menjadi level 3.937 pada 24 Maret 2020 atau runtuh sebesar 37,49% dari level 6.299 pada 30 Desember 2019. Investor dan trader dibayangi oleh sentimen corona ( COVID-19 ) yang mengakibatkan mereka memutuskan untuk menarik dananya dari bursa saham dan beralih pada aset safe haven seperti government bond dan emas. Keputusan para investor dan trader inilah yang menyebabkan IHSG terperosok cukup dalam. Hal ini menyebabkan banyak pelaku pasar yang mengalami kerugian,entah sudah terealisasi atau belum. Penulis pun mengalami hal demikian. Semua saham yang penulis pegang turun secara signifikan. Sebelumnya, saham penulis belum pernah turun sebanyak ini. Alhasil, ketika penulis membuka aplikasi sekuritas, warna merah lah yang menghiasi portofolio hahaha…

Sisi Menarik Pandemik

Akan tetapi, penulis melihat sisi menarik dari pandemik corona ( COVID-19 ) ini. Ternyata, penulis menjumpai banyak saham yang dijual pada harga diskon, bahkan sangat murah. Ingat murah dan murahan berbeda. Saham yang biasa diperdagangkan pada harga mahal, kali ini dijual pada harga murah. Penulis ambil contoh, dalam kondisi pasar normal, saham ASII biasa diperdagangkan pada rentang harga Rp7000-8000 per saham. Namun, saat pandemik ini, ASII sempat menyentuh harga Rp3220 per saham! Harga terendah ASII dalam 5 tahun terakhir. Harga saham PTPP sempat menyentuh harga terendah dalam 5 tahun terakhir yaitu Rp484 per saham! Harga tersebut bahkan lebih rendah dari offering price PTPP saat IPO yaitu Rp560 per saham. Sungguh, momen ini baru pertama kali penulis alami. Penulis terjun ke pasar modal pada akhir tahun 2016 dan baru pertama kali melihat saham-saham top berguguran!

PTPP

Dari pandemik COVID-19 ini, penulis memperoleh pelajaran berharga yaitu pasar modal pasti akan mengalami koreksi yang cukup dalam. Entah kapan waktunya, penulis ngga tahu. Kita ngga akan tahu kapan IHSG bisa terkoreksi seperti sekarang ini. Mungkin 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, and so on. Nobody can predict market exactly! Dulu, penulis pernah mendengar istilah ‘siklus 10 tahunan’ dan diprediksi akan terjadi pada tahun 2018. Namun ternyata, tahun 2018 ngga terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan pasar. Justru tahun 2020 lah yang menjadi bearish year bagi IHSG. Padahal, tahun 2020 diprediksi menjadi tahun yang baik. Memang, pada akhir tahun 2019 ramai diperbincangkan akan terjadi resesi di tahun 2020. Sebab, beberapa negara maju sudah menunjukkan gejala resesi. Akan tetapi, ngga pernah terpikirkan kalau tahun 2020 adalah wabah virus di hampir seluruh dunia!

Pesan

Penulis mengingatkan bagi para pembaca artikel ini untuk mengambil sikap bijaksana dan hati-hati dalam membuat keputusan mengingat fluktuasi harga saham yang masih tinggi dan investor diliputi oleh sentimen yang cenderung negatif. Penulis menyarankan kepada para pembaca artikel untuk menganalisis saham yang akan dibeli dengan baik dan teliti, pahami setiap detil annual report dan financial statement, dan bijak dalam menggunakan cash on hand. Jangan terburu-buru untuk masuk ke dalam sebuah saham hanya karena saham tersebut turun sekian persen. Ingat, anda menginvestasikan uang anda sendiri. Jadi, bijak dan berhati-hatilah dalam berinvestasi. Cepat atau lambat, pasar saham akan kembali ke level semula. Bersabarlah…

Penulis: Farhan Hilmi Mubarok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *