Tahun 2020 menjadi tahun yang berat bagi hampir semua umat manusia di penjuru dunia. Bagaimana tidak? Virus corona sudah mewabah lebih dari 6 bulan sejak awal kemunculannya pada akhir tahun 2019 lalu. Tak pernah disangka, virus yang bermula dari Wuhan, China ini ternyata berdampak besar bagi dunia. Tak hanya dari sisi kesehatan, namun berdampak pula pada sisi perekonomian. Predikat The Uncertainty Year atau tahun ketidakpastian layak disematkan pada tahun ini, 2020.
Sejak bulan Maret hingga artikel ini ditulis, penulis hanya di rumah saja. Penulis saat ini masih berkuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Sama seperti mahasiswa tingkat akhir lainnya, syarat kelulusan dalam jenjang sarjana adalah skripsi. Penulis saat ini sedang mengambil skripsi sebagai syarat kelulusan. Dulu, sebelum ada pandemi, penulis mengikuti bimbingan langsung tatap muka dengan dosen penulis. Akan tetapi, sejak pandemi mewabah di Indonesia, penulis mengikuti bimbingan via online. Ini adalah kali pertama penulis mengikuti pembelajaran jarak jauh. Begitu pun dengan teman-teman kuliah penulis, mereka juga baru pertama kali ikut kuliah online. Benar-benar tidak terduga dan sulit diprediksi.
Ketidakpastian tersebut tidak cuma berlaku pada penulis saja. Namun, hampir semua orang merasakan hal yang sama. Kebetulan, semua ketidakpastian ini jatuh pada tahun 2020. Tak cuma Indonesia saja, negara-negara lain juga merasakan hal yang sama. Menurut penulis, faktor-faktor berikut ini yang menyebabkan tahun 2020 diliputi oleh ketidakpastian.
Pandemi Virus Corona
Tentu saja, faktor pertama yang menyebabkan tahun 2020 diliputi oleh ketidakpastian adalah pandemi virus corona. Virus corona sudah mewabah di lebih dari 200 negara didunia dan telah menginfeksi sekitar 10 juta orang didunia. Pandemi virus corona atau biasa dikenal sebagai corona virus disease-19 (Covid-19) telah menyebabkan dampak yang serius bagi negara-negara didunia, tak terkecuali Indonesia. Sejak pemerintah Indonesia menetapkan status tanggap darurat Covid-19 pada Maret 2020, Indonesia masih belum mampu terbebas dari virus ini. Malahan, jumlah pasien positif meningkat drastis dan terus mencetak rekor. Padahal, status tanggap darurat sudah dicabut dan diganti dengan kebijakan new normal. Namun, sepertinya badai virus ini belum mampu dibendung oleh pemerintah.
Kebijakan new normal atau tatanan kehidupan baru yang digagas pemerintah bertujuan sebagai starter dalam perekonomian. Seperti yang kita tahu, perekonomian Indonesia bisa dibilang lumpuh akibat pandemi. Nah, new normal diharapkan dapat meningkatkan gairah ekonomi Indonesia yang sempat lesu. Namun, new normal nampaknya belum berdampak signifikan bagi perekonomian. Masih ada masyarakat yang takut untuk mulai beraktivitas seperti sedia kala. Bayang-bayang mengerikan dari virus corona belum hilang dari benak masyarakat, sehingga masyarakat masih enggan untuk kembali aktif. Kunci dari pandemi ini adalah vaksin. Selama vaksin belum ditemukan, maka pandemi belum mampu dikalahkan. Beberapa negara sudah mencoba vaksin hasil temuannya, tetapi belum satu pun yang memperoleh izin WHO untuk diproduksi secara massal. Kita cukup bersabar menunggu vaksin ditemukan dan tetap menerapkan protokol kesehatan di manapun kita berada.