‘Hantu’ Resesi Ekonomi
Isu resesi ekonomi sebenarnya sudah berhembus sejak tahun 2019. Ternyata, isu tersebut menjadi kian nyata di tahun 2020. Bagaimana tidak? Pandemi memaksa sejumlah negara menerapkan kebijakan lockdown. Kebijakan tersebut berdampak pada aktivitas ekonomi negara bersangkutan. Bahkan, beberapa negara sudah mengumumkan akan masuk ke dalam jurang resesi ekonomi. Jepang, Jerman, serta beberapa negara Eropa lain mewaspadai resesi ekonomi yang siap menunggu mereka. Minggu lalu, International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan ekonomi global akan terkontraksi sebesar -4,9%. Padahal, April 2020 IMF memproyeksikan ekonomi global akan -3%. Proyeksi yang dibuat oleh IMF malah kian memburuk. IMF memberi julukan untuk krisis saat ini sebagai Great Lockdown.
Indonesia tak lepas dari bahaya resesi. Hal ini disampaikan oleh Bu Sri Mulyani minggu lalu. Indonesia diramal akan mengalami kontraksi sebesar -3,1% pada kuartal II 2020. Kemudian, perekonomian RI diproyeksi akan tumbuh pada kuartal III dan kuartal IV 2020. Akan tetapi, proyeksi tersebut hanya akan menjadi mimpi jika sendi-sendi perekonomian tidak berjalan optimal. Justru yang terjadi sebaliknya, jika perekonomian belum optimal, Indonesia bisa terjerumus ke jurang resesi. Konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 60% PDB, sehingga jika masyarakat tidak aktif membelanjakan uangnya, sudah pasti PDB akan turun. Pemerintah tidak bisa memaksa masyarakat untuk kembali aktif seperti sedia kala. Lagi-lagi, kuncinya ada pada vaksin corona. Selama vaksin belum ditemukan, masyarakat akan terus berada dalam bayang-bayang ketakutan.
Konflik Geopolitik
Tidak cuma virus corona saja yang ramai di tahun 2020, tetapi konflik geopolitik juga menjadi turut menghiasi trending topic di media massa. Beberapa waktu lalu, Korea Utara meledakkan kantor penghubung Kaesong yang memicu babak baru dalam konflik antara Korea Utara dengan Korea Selatan. Korea Utara tidak terima dengan sikap Korea Selatan yang membiarkan para pembelot Korea Utara menyebarkan pamflet dan menyebarkan isu-isu negatif tentang pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Tak hanya Korea saja yang sedang panas, China dan India beberapa waktu lalu juga tegang di Lembah Galwan. Kedua negara, China dan India, memang sudah lama mempermasalahkan daerah tersebut. Mereka sama-sama mengakui klaim atas Lembah Galwan. Militer China dan India sama-sama bersiaga di daerah yang diperebutkan.
China tidak hanya ribut dengan India saja. Tahun ini, Jepang dan Australia juga memiliki konflik dengan China. Sengketa Pulau Senkaku antara Jepang dan China tak kunjung selesai. Kedua negara sama-sama mengeklaim pulau tersebut. Ketegangan antara Australia dengan China juga terjadi akhir-akhir ini. Pernyataan Australia yang menyatakan bahwa virus corona adalah ‘virus China’ menyulut emosi China. Hubungan bilateral kedua negara masih tegang hingga sekarang. Sebenarnya konflik China tak sampai di situ saja. Masih ada konflik antara Beijing dengan Hongkong, yang menjadi wilayah otonomi khusus. Kebijakan Beijing untuk menghapus Hongkong dari wilayah otonomi khusus berpotensi menimbulkan konflik baru, terutama dengan AS dan Uni Eropa. Hongkong yang berstatus pusat keuangan Asia berpotensi kehilangan statusnya tersebut. Hak-hak istimewa yang selama ini dimiliki Hongkong terancam dicabut. Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga tak bisa diabaikan. Baru-baru ini Arab Saudi menembak kapal-kapal nelayan Iran yang melanggar garis pantai Saudi. Arab Saudi dan Iran sudah putus hubungan diplomatik sejak tahun 2016.
Konflik antar negara ini sedikit banyak dapat memicu permasalahan baru, terutama perang dagang. Ingat, perang dagang AS vs China belum usai. Sementara, negara-negara lain mulai memercikan perang dagang baru. Hal ini patut diperhatikan mengingat pemulihan ekonomi pasca pandemi baru bisa dirasakan pada tahun 2021. Akan tetapi, jika konflik antar negara terus berlanjut, bukan tidak mungkin economic recovery akan lebih lama dari prediksi. Sebab, tiada negara yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri. Pasti membutuhkan barang dan jasa dari negara lain.