Senjata Jerome ‘Jay’ Powell cs dan Banjir Likuiditas

Nama Jerome ‘Jay’ Powell akhir-akhir ini sering diperbincangkan oleh kalangan pelaku pasar modal. Program unlimited quantitative easing yang dikeluarkannya membuat pelaku pasar tercengang. Jerome Powell adalah Ketua Federal Reserve (The Fed) yang ke-16. Dia dicalonkan sebagai Ketua The Fed oleh Donald Trump dan disetujui oleh senat AS. Jerome Powell mulai menjabat sebagai Ketua The Fed pada Februari 2018. ~ Banjir Likuiditas ~

The Fed memutuskan untuk menerapkan program unlimited quantitative easing atau pelonggaran kuantitatif tak terbatas demi menyelamatkan perekonomian AS dari pandemi virus corona. Program ini mulai diterapkan pada Maret 2020 menyusul perekonomian AS yang makin parah akibat pandemi virus corona. Program ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah uang beredar guna mendukung aliran kredit kepada para pengusaha, konsumen, dan bisnis, terutama yang berskala kecil. Sebab, pandemi hampir melumpuhkan seluruh sendi perekonomian AS. Dengan diberlakukannya program ini, harapan The Fed adalah perekonomian AS dapat bertahan dan pulih cepat akibat pandemi virus corona.

Jerome Powell

Instrumen yang Dibeli The Fed

Dalam pernyatannya, instrumen yang dibeli oleh The Fed adalah obligasi pemerintah dan sekuritas berbasis mortgage. The Fed menyatakan bahwa siap membeli sekuritas tersebut dalam jumlah berapapun yang dibutuhkan. Dampak program ini akan menaikkan harga sekuritas di pasar karena permintaan yang meningkat. Naiknya harga sekuritas akan mendorong pemegang sekuritas (perorangan atau institusi), untuk menjual sekuritas yang dimiliki. Kemudian, uang hasil penjualan sekuritas dapat digunakan untuk belanja atau membeli sekuritas lain yang lebih menguntungkan, seperti saham.

Alasan The Fed membeli obligasi pemerintah dan sekuritas berbasis mortgage adalah kedua sekuritas ini memiliki likuiditas yang tinggi di pasar. US Treasury bonds dan mortgage backed securities merupakan pemimpin pasar obligasi di AS. Sehingga, mudah bagi The Fed untuk membelinya dari pasar. Selain kedua sekuritas tersebut, The Fed pun akan membeli obligasi korporasi berperingkat baik. Walaupun, jumlahnya tidak sebanyak kedua sekuritas yang sudah penulis sebutkan di atas. Tercatat pada bulan Maret – April 2020, The Fed telah merealisasikan dana sebanyak US$ 1,4 triliun ke pasar.

Banjir Likuiditas

Hampir tiga bulan program unlimited quantitative easing diterapkan di AS. Tak cuma The Fed, beberapa bank sentral dunia juga menerapkan program ini, diantaranya Bank of England dan Bank of Japan. Pandemi virus corona memang sudah memengaruhi perekonomian banyak negara tanpa pandang bulu. Tak tanggung-tanggung, beberapa bank sentral didunia menggelontorkan dana yang sangat fantastis guna menyelamatkan perekonomian negaranya dari jurang resesi. Seperti yang kita ketahui, resesi adalah kontraksi atau pertumbuhan negatif ekonomi selama dua kuartal secara berturut-turut dalam setahun.

Penulis melihat bahwa dampak dari program quantitative easing ini sudah mulai dirasakan, bahkan di pasar modal Indonesia. Penulis mengutip informasi dari CNBC Indonesia (9/6/2020), pada pekan pertama Juni investor asing melakukan pembelian bersih (net buy) di pasar saham sebesar Rp3,34 triliun di semua pasar. Pasar obligasi RI justru mengalami inflow asing yang lebih besar. Gubernur BI, Pak Perry Warjiyo, mengutarakan bahwa pada pekan pertama Juni inflow asing ke pasar obligasi sebesar Rp7,01 triliun. Dana yang lumayan fantastis masuk ke Indonesia.

Jujur saja, penulis ngga tahu alasan investor asing memburu surat berharga di pasar keuangan Indonesia. Mengingat keadaan Indonesia yang masih mengalami pertambahan kasus positif virus corona. Bahkan, penambahan kasus positif masih terus mencetak rekor. Perekonomian Indonesia pada kuartal II 2020 diramal akan terkontraksi sebesar -3,1%. Pemerintah tak menjamin perbaikan ekonomi akan terjadi pada kuartal III dan kuartal IV 2020. Kebijakan new normal serta pelonggaran PSBB nyatanya belum cukup mampu mendorong kegiatan ekonomi kembali seperti semula. Masyarakat masih takut untuk beraktivitas di luar rumah. Perusahaan belum sepenuhnya beroperasi normal. Karyawan yang dirumahkan pun belum kunjung dipanggil kembali. Bayang-bayang second and third wave virus corona di Indonesia memang masih kuat.

Gedung Bursa Efek Indonesia

Kemungkinan

Mungkin penyebab dana asing masuk ke RI adalah banjir likuiditas yang terjadi di beberapa negara, terkhusus negara maju. AS, Jepang, dan Inggris adalah beberapa contoh negara yang bank sentralnya menginjeksikan likuiditas yang sangat banyak ke pasar. Dampaknya, banjir likuiditas tak dapat terhindarkan. Para investor asing ini memperoleh dana segar dari hasil penjualan sekuritas di negara asal, kemudian mereka menggunakan dana tersebut untuk berinvestasi di emerging market seperti Indonesia. Ditambah, keuntungan karena selisih kurs. Tentunya, membuat investor asing semakin di atas angin.

IHSG masih mengalami fluktuasi yang tinggi. Menurut penulis, salah satu penyebabnya adalah banjir likuiditas ini. Investor asing masih memiliki cukup dana untuk keluar masuk bursa saham Indonesia. Sehingga hal ini menimbulkan fluktuasi pada IHSG. Sementara, dana investor domestik kalah gede daripada dana asing. Tahu kan kalau bursa saham kita masih didominasi oleh investor asing? Jadi, menurut penulis, IHSG masih akan terus berfluktuasi. Entah sampai kapan waktunya, penulis ngga tahu. Banjir likuiditas akibat quantitative easing ini akan terus berlanjut hingga bank sentral merasa perekonomian negaranya sudah pulih. Mungkin selama pandemi belum berakhir, banjir likuiditas masih akan terus berlanjut. Pesan penulis, jangan gegabah ketika ingin membeli saham. Pertimbangkan dan analisis lah dengan matang. Jangan biarkan emosi menguasai diri sebab akan menganggu proses analisis. Ingat, gunakan idle money dalam berinvestasi ya. Jaga kesehatan teman-teman!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *